Ketika Boomer Memimpin dengan Hati, Bukan Hanya Aturan

Ketika Boomer Memimpin dengan Hati, Bukan Hanya Aturan

Boomer, sering kali dianggap sebagai generasi yang telah berusia lebih dari 60 tahun. Namun, hal ini tidak secara otomatis menentukan kemampuan mereka untuk memimpin dengan hati. Pada kenyataannya, ketika boomer memimpin dengan hati, bukan hanya aturan yang menjadi pilar utama, melainkan komitmen dan rasa tanggung jawab yang sebenarnya membuat perbedaan.

Mengapa Komitmen Yang Mengkuasai?

Bayangkan kamu sedang berjalan di jalan, dan kamu bertemu dengan teman lama yang sudah tidak berbicara dalam beberapa tahun. Kamu masih ingat tentang kisah baik dan kecerdasan mereka. Ketika mereka meminta bantuan atau dukungan, apa yang terlintas di pikiranmu? Tentunya bukan hanya aturan, melainkan perasaan kasar dan keinginan untuk membantu.

Hal yang sama berlaku ketika boomer memimpin. Mereka tidak membuat keputusan dengan hanya memikirkan aturan, tetapi lebih kepada perasaan dan empati mereka terhadap tim atau organisasi mereka. Apabila mereka merasa bahwa keputusan itu benar untuk tim, maka tentu saja mereka akan berusaha untuk melaksanakannya.

Contoh di Kehidupan Sehari-Hari

Bayangkan kamu sedang bekerja sama dengan rekan kerja yang sedang menghadapi masalah. Mereka tidak bisa melakukan pekerjaan mereka sebaiknya dan membutuhkan saran dan dukungan dari temanmu. Apa yang terlintas di pikiranmu? Tentu saja, bukan hanya aturan tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan benar. Melainkan, perasaan kasar untuk membantu mereka sampai sukses.

  • Apabila kamu memiliki rekan kerja yang sedang menghadapi kesulitan, ajaklah mereka untuk berbicara dan mendengarkan masalahnya dengan benar-benar serius.
  • Minta dukungan tim untuk membantu mencari solusi bersama-sama.
  • Berikan saran yang konstruktif agar mereka bisa melakukan pekerjaan mereka lebih baik.

Kesimpulan

Dalam banyak kasus, ketika boomer memimpin dengan hati bukan hanya aturan yang menjadi pilar utama. Melainkan komitmen dan rasa tanggung jawab yang sebenarnya membuat perbedaan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam beberapa hal, lebih penting untuk fokus pada empati dan perasaan daripada berpikir hanya tentang aturan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *